Selasa, 29 November 2011

BAB II Apendik


BAB II
TINJAUAN TEORITIS


A.    Konsep Dasar
1.      Pengertian
Menurut Barbara C. Long (1996 : 228) apendisitis adalah  : Suatu peradangan pada apendiks yang berbentuk cacing yang berlokasi dekat katup ileosecal dan peradangan mungkin disebabkan oleh obstruksi dari fekalit (suatu masa separti batu yang berbentuk dari feaces) atau infeksi bakterial.
Menurut Kapita Selekta Kedokteran, Arif Mansoer (at all 2000 : 307) bahwa apendisitis adalah : Peradangan dari apendisitis vermiformis dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering.
Menurut Brumer and Sudarth (2002 : 1099) bahwa apendectomi adalah : Tindakan pembedahan untuk mengangkat apendiks yang dilakukan sesegara mungkn untuk menurunkan resiko perforasi.

2.   Anatomi dan Fisiologi Apendiks
a.   Struktur Apendiks
Apendiks vermiformis merupakan tabung buntu yang berukuran sekitar jari kelingking yang terletak pada daerah ileosecal yaitu apeks sekum. Sylvia A. Price (1995 : 389).
Pada apendiks posisi yang normal adalah apendiks yang terletak pada dinding abdomen di bawah titik Mc. Burney dan dicari dengan  menarik garis spina iliaka superior kanan ke umbilikus dan titik tengah garis ini merupakan tempat pangkal apendiks.
Gambar 2.1

Titik MC. Burney dan beberapa posisi apendiks yang sering ditemukan.
Sumber : Sylvia A. Prince – Patofisiologi



Gambar 2.2
 
Kasus apendik 65% terletak pada intraperitoneal dan kedudukan ini memungkinkan apendik bergerak dan ruang geraknya bergantung pada masoapendik penggantungannya. (R. Sjamsuhidayat dan Wim De Jong, 1997 ; 105)


b.      Fisiologi Apendiks
Fungsi apendiks tidak diketahui dan diperkirakan mempunyai peranan mekanisme dalam imunologik. Imunoglobin sekret yang dihasilkan oleh GALT (Gut Assosiated Lymphoid Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks ialah imuglobin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi, namun demikian pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan lymphoid disini kecil sekali jika  dibandingkan dengan jumlah disaluran cerna dan  seluruh tubuh.
3.   Etiologi
Apendiks akut merupakan infeksi bakteri berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya timbul tanpa sebab yang jelas atau timbul setelah obstruksi apendiks oleh tinja atau akibat terpelintirnya apendiks atau pembuluh darah.
Penyebab lain yaitu erosi mukosa apendisitis karena entamuba histolytica peran kebiasaan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis.Konstipasi akan menaikan tekanan yang berakibat timbulnya  sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa dan semua ini akan mempermudah timbulnya penyakit apendiks akut.
4.      Patofisiologi
Mula-mula disebabkan oleh sumbatan lumen, obstruksi lumen biasanya disebabkan oleh penyempitan lumen akibat hiperplasia jaringan lymphoid submukosa. Feces yang terperangkap dalam lumen apendiks mengalami penyebaran air dan terbentuklah fekalit yang akhirnya sebagai kausa sumbatan. Sumbatan lumen apendiks ini menyebabkan keluhan sakit disekitar imbilikus, epigastrium nausea dan muntah.
Sekresi mukus yang terus menerus menyebabkan apendiks teregang intralumen melebihi tekanan vena (> 85 cm H2O) apendiks menjadi hipoksia dan dinding apendiks menjadi mudah diserang oleh invasi kuman dan multipikasi bakteri dan kuman kelapisan mukosa, sub mukosa, lapisan muskularis dan akhirnya ke peritonuim parietalis sehingga terjadilah peritonotis lokal ke bawah.

5.      Klasifikasi
Menurut Robin dan Kumar (1995 ; 217) pada apendisitis akut, dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
a.       Apendisitis Akut Focales atau Segmentalis
Biasanya hanya bagian distal yang meradang tetapi seluruh rongga apendiks 1/3 distal berisi nanah. Dari luar tidak jelas tampak kelainan kadang hanya hipermi ringan dan serosa.
b.      Apendisitis akut Purulenta (suppurativa) diffusa
Pembentukan nanah yang berlebihan. Jika radangnya lebih mengeras, dapat terjadi nekrosis dan pembusukan tersebut apendisitis gangrenosa.
6.      Manifestasi Klinik
Apendisitis muncul dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing dan, disertai rangsangan peritoneum lokal. Gejala klasik apendiks adalah nyeri viseral di daerah epigastrium disekitar umbilikus dengan keluhan mual dan kadang muntah. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah, ke titik MC. Burney. Nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
Komplikasi utama apendiks adalah : Perforasi, Peritonitis, Abses Apendiks, Pile Flebitis (Trombosit Septik Vera Portal).

7.      Manajemen Medik Secara Umum
Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar 37,5OC-38,5OC bila suhu lebih tinggi mungkin sudah terjadi perforasi. Pada saat inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik dan kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi dan penonjolan perut kanan bawah dapat dilihat pada masa atau abses apendikuler.
Pembedahan dilakukan sebelum ruptur dan tanda-tanda peritonitis terjadi. Apabila apendiks pecah sebelum tindakan bedah maka diperlukan pemberian antibiotik untuk mengurangi resiko peritonitis dan sepsis.

8.      Dampak Terhadap Sistem Tubuh Lain
a.       Pada Sistem Pencernaan
Komplikasi penyebaran infeksi dari apendisitis menyebabkan peradangan pada peritoneum. Dengan Peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus. Paralitik kemudian menjadi atoni atau meregang.
b.      Pada Sistem Perkemihan
Adanya penyebaran toksin dan bakteri akibat dari peradangan apendiks sehingga peritoneum terkontaminasi, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler, menyebabkan perpindahan cairan dari intra sel ke ekstra sel di rongga peritoneum, kemudian perfusi jaringan menurun sehingga terjadi gagal ginjal dan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.

B.     Tinjauan Teoritis Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah suatu pendekatan sistematis untuk mengenal masalah-masalah yang dinamis dalam memperbaiki dan meningkatkan kesehatan pasien yang terdiri dari empat tahap Yaitu : pengakjian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. (Nasrul Efendy, 1995 ; 15)
1.                  Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dan proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien agar dapat mengidentifikasi, mengenal masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan pasien baik fisik, mental, sosial dan lingkungan (Nasrul Efendy, 1995 ; 18).
a.       Pengumpulan Data
Biodata yang diperlukan mencakup : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat klien, nomor register, diagnosa medis, tanggal masuk perawatan, tanggal mulai dikaji oleh mahasiswa. (Robert Priharjo, 1994 ; 12)
1)      Identitas Klien
Robert Priharjo (1996 : 12) mengemukakan tentang biografi pasien yang meliputi : nama, usia, alamat, tempat tanggal lahir, agama, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, kewarganegaraan, suku bangsa.
2)                              Penanggung jawab
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan hubungan dengan klien.
3)                              Riwayat Kesehatan Klien
a)      Keluahan utama
Klien merasa nyeri di abdomen kuadran kanan bawah, badan demam, mual dan muntah. (Marylinn E. Doenges, 2000 ; 508).
b)      Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada riwayat kesehatan dapat mempergunakan suatu pendekatan yaitu dengan P, Q, R, S, T.
c)      Riwayat Kesehatan Terdahulu
Pada riwayat kesehatan terdahulu ajukan pertanyaan apakah klien pernah mengalami atau mempunyai riwayat penyakit saluran pencernaan, kebiasaan mengkonsumsi makanan serta riwayat sakit atau pernah dirawat sebelumnya.
d)     Riwayat Kesehatan Keluarga
Menurut Robert Priharjo (1994 ; 138) data riwayat keluarga dikumpulkan dengan pertanyaan apakah dalam keluarga klien ada yang menderita penyakit yang sama atau saluran pencernaan yang lainnya.
4)      Pemeriksaan Fisik
a)      Keadaan umum dan tanda-tanda vital
Keadaan umum mencakup penampilan, tingkat kesadaran, tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi, pernafasan, BB dan TB.
b)      Sistem pernafasan
Kaji pola pernafasan, penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, sianosis, auskultasi bunyi nafas : normal (bronkhiale, wheezing, stridor). Pasien post apendectomi dapat ditemukan peningkatan frekuensi, cepat dan dangkal, irama reguler, bunyi nafas vesikuler.
c)      Sistem kardiovaskuler
Inpeksi         :  Konjungtiva anemis atau tidak, mukosa bibir merah atau sianosis, pada leher apakah ada peningkatan vena jugolaris.
Palpasi          : Adakah oedema pada ekstremitas pada pasien post apendectomi biasanya teraba denyut nadi lemah.
Auskultasi    :  Mendengar bunyi jantung di daerah aorta, pulmonalis, katup trikuspidalis, katup mitral, apakah bunyi jantung tambahan.
Perkusi         : Perkusi daerah jantung
d)     Sistem pencernaan
Pada kasus apendisitis ditemukan adanya nyeri tekan pada abdomen kuadran bawah, pada post apendectomi  dapat ditemukan daerah luka operasi, bunyi bising usus lemah, adanya pengaruh dari anestesi umum untuk mengistirahatkan fungsi pencernaan tersebut.
e)      Sistem Perkemihan
Kaji adanya retensi urine akibat efek anestesi dan keadaan imobile setelah dioperasi
f)       Sistem Persyarafan
Kaji tingkat kesadaran, test fungsi nervus cranial, fungsi sensorik dan motorik serta reflek.
g)      Sistem Muskuloskeletal
Kaji kemampuan klien untuk melakukan rentang gerak sendi dan kaji adanya pembengkakan, deformitas, nyeri, kekakuan dan kondisi jaringan.
h)      Sistem Endokrin
Kaji adanya pembesaran kelenjar tyroid, keluhan poliuri, polidipsi dan polipagi.
i)        Sistem Integumen
Kaji bagaimana keadaan kulit, turgor testur, lesi, keadaan, kuku dan rambut. Pada kasus apendiks terdapat luka operasi pada abdomen yang membentuk jaringan perut.
5)      Pola kebiasaan sehari-hari
Kaji terhadap pola aktivitas sehari-hari mencakup pola makan, pola minum, pola istirahat tidur, personal hygiene, pola aktifitas
6)      Data Psikososial : penampilan, status emosi, konsep diri, kecemasan, dan interaksi sosial.
7)            Data Spiritual
Kaji bagaimana klien melaksanakan ibadahnya.
8)                                    Data Penunjang
Laboratorium
Darah     :  Leukositosis (Lebih dari 10.000/mm3)
Urine      : Kadang-kadang hematuria (bila apendiks yang meradang menempel pada ureter dan vesiko dan pemeriksaan rontgen atau sinar x).


9)           Therapi
Tindakan apendectomi darurat jika didiagnosa sudah ditegakan, obat-obatan antibiotik, pasang infus pasang NGT jika diperlukan.

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respons manusia dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito, 2000 : 35). Beberapa diagnosa yang mungkin timbul pada pasien apendicitis pasca operasi yaitu :
a.       Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri sekunder terhadap pembedahan.
b.      Nyeri berhubungan dengan adanya luka operasi atau insisi bedah.
c.       Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pasca operasi.
d.      Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembedahan pasca operasi (contoh puasa) status hiper metabolik (contoh demam proses penyembuhan).
e.       Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, insisi bedah.
f.               Resiko tinggi kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perawatan diri saat pasien pulang.
Perencanaan
Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan (Nursalam 2000 : 51). Rencana tindakan yang dapat dirumuskan pada klien post apendectomi antara lain :
a.        Diagnosa keperawatan : Defisit perawatan diri
Tujuan             : Kebutuhan perawatan klien terpenuhi
Kriteri             : Klien mampu mengidentifikasikan area kebutuhan

Diagnosa Keperawatan : Defisit Perawatan Diri

INTERVENSI
RASIONALISASI
-    Tentukan tingkatan bantuan yang diperlukan, berikan bantuan sesuai kebutuhan membiarkan pasien melakukan sebanyak mungkin untuk dirinya.
-    Berikan waktu yang cukup bagi pasien untuk melakukan aktivitas.
-    Instruksikan pasien adaptasi yang diperlukan yang dimulai dengan tugas yang mudah dilakukan sampai tugas yang sulit, berikan pujian untuk kerhasilan tersebut.
-    Menaruh bel ditempat yang mudah dijangkau.
-    Untuk mendorong kemandirian



-    Membebani pasien dengan aktivitas menyebabkan frustasi
-    Untuk mendorong kemandirian, pujian memotivasi untuk terus belajar.


-    Untuk memberikan rasa aman

b.      Diagnosa Keperawatan : Nyeri
Tujuan          :     Nyeri Teratasi atau hilang
Kriteria        :      Klien tampak rileks, mampu tidur atau istirahat dengan tepat, peningkatan dalam aktivitas.

Diagnosa Keperawatan : Nyeri
INTERVENSI
RASIONALISASI
-    Kaji nyeri, catat lokasi, beratnya (skala 0-10), selidiki dan catat setiap perubahan nyeri dengan tepat.

-    Pertahankan istirahat dengan semi Fowler




-    Memberikan latihan gerak mobilisasi




-    Ajarkan latihan pernafasan, teknik relaksasi
-      Berguna dalam kemajuan penyembuhan luka, perubahan pada karakteristik nyeri menunjukan terjadinya abses atau peritonitis.
-      Gravitasi melokalisasi eksudat implementasi dalam abdomen bawah, menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang

-      Klien mungkin akan membatasi gerak oleh persepsi tentang keterbatasan gerak dan memerlukan informasi atatu intervensi untuk meningkatkan kesehatan.
-      Latihan pernafasan dan tehnik relaksasi menurunkan kosumsi oksigen frekuensi pernafasan, frekuensi jantung dan ketegangan otot yang memberikan siklus nyeri ansietas ketegangan otot.

c.       Diagnosa Keperawatan : Resiko Tinggi Terjadi Infeksi
Tujuan             : Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar
Kriteria           : Tidak terjadi tanpa infeksi demam eritema

Diagnosa Keperawatan : Resiko Tinggi Terjadinya Infeksi
INTERVENSI
RASIONALISASI
-    Monitor tanda-tanda vital, perhatikan demam menggigil, berkeringat, perubahan mental, dan meningkatkan nyeri abdomen.
-    Melakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka ansietas
-    Lihat insisi dan balutan catat karakteristik luka.
-    Berikan informasi yang tepat, jujur pada pasien orang terdekat

-    Berikan antibiotik sesuai indikasi.
-       Dugaan adanya infeksi atau terjadinya sepsis, abses, peritoritis


-       Menurunkan resiko penyebaran nyeri

-       Memberikan deteksi diri, terjadinya proses infeksi
-       Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi dan membantu penurunan ansietas.
-       Menurunkan jumlah organisme (pada infeksi yang telah ada sebelumnya) untuk menurunkan penyebarannya pada rongga abdomen.
d.      Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pasca operasi (contoh puasa) dan satatus hepermetabolik (contoh demam, proses peyembuhan)
Tujuan             : Mempertahankan keseimbangan cairan
Kriteria           :   Membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda   vital, stabil dan pengeluaran urine adekuat.

Diagnosa Keperawatan : Resiko Tinggi Terhadap Kekurangan Volume
Cairan Berhubungan Dengan Pembatasan Pasca Operasi
INTERVENSI
RASIONALISASI
-    Awasi tanda-tanda vital terutama nadi dan tekanan darah
-    Awasi masuknya dan pengeluaran urine atau kosentrasi, berat jenis.
-    Lihat membran mukosa, kaji turgor kulit dan pengisian kapiler
-    Auskultasi bising usus

-    Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan per oral dimulai dan dilanjutkan diet sesuai toleransi.
-       Tanda yang membatu mengidentifikasi fruktuasi volume intravaskuler
-       Penurunan pengeluaran urine pekak dengan peningkatan berat jenis diduga dehidrasi.
-       Indikator kedekatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler
-       Indikator kembalinya peristaltik kesiapan, kesiapan untuk pemasukan per oral
-       Menurunkan iritasi gaster atau muntah untuk meminimalkan kekurangan cairan.


e.       Diagnosa Perawatan
Tujuan             : Mendemontrasikan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas perawatan diri saat pasien pulang.
Kriteria            : Mengatakan mengerti tentang instruksi
                        : Melaksanakan dengan tepat keterampilan perawatan diri yang diperlukan.
                        : Mengidentifikasi bagian-bagian yang memerlukan perawatan.
Diagnosa Keperawatan : Kerusakan Penatalaksanaan Pemeliharaan
di Rumah Berhubungan Dengan Kurangnya Pengetahuan
Tentang Perawatan Diri Saat Pasien Pulang

INTERVENSI
RASIONALISASI
-    Ajar dan biarkan pasien merawat luka klien jika penggantian verband perlu dilakukan di rumah dan tekankan pentingnya cuci tangan sebelum melakukan tindakan.



-    Beritahukan oleh pasien jika terjadi infeksi luka, kemerahan nyeri tekan dan demam.
-    Pastikan pasien mempunyai persidiaan yang cukup untuk perawatan luka dan resep untuk analgetik.


-    Instruksikan agar pasien beristirahat sepanjang hari, secara bertahap melakukan aktivitas serta menghindari mengangkat benda-benda berat dan latihan yang berlebihan.
-       Praktek akan membantu pasien mengembangkan keyakinan dalam perawatan diri dan memungkinkan perawat mengevaluasi kemampuan pasien melaksanakan keterampilan tersebut sendiri dan menentukan apakah diperlukan bantuan, tindakan untuk mencegah infeksi harus dilanjutkan sampai luka benar-benar sembuh
-       Diperlukan antibiotik untuk mengatasi infeksi.

-       Persediaan penting untuk mengurangi kecemasan yang umumnya berhubungan dengan pemulangan pasien, analgetik memberikan kenyamanan dan mendorong untuk tidur.
-       Pembedahan adalah stressor

Implementasi
Tahap implementasi adalah pengelolaan dan rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. (Nasrul Efendy, 1995 ; 40).
Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan dan melibatkan pasien dan tenaga kesehatan lainnya. (Nasrul Efendy, 1995 ; 46)
Catatan Perkembangan
Catatan perkembangan merupakan bagian catatan klien yang berisi : hasil pemeriksaan pengkajian, pesan dokter, ahli terapi yang terlibat. Semua catatan berisi data dan topik masalah dengan informasi yang dicatat dalam format SOAPIER. (Nasrul Efendy, 1995 ; 42).
Pendokumentasian Asuhan Keperawatan
Pendokumentasian adalah aspek yang penting dalam pengkajian data riwayat kesehatan dan pengkajian fisik. Setelah pengumpulan data selesai dilakukan, maka perawat harus dapat mengorganisasikan data dan mencatatnya dengan cara yang tepat dan benar.
(Robert Priharjo, 1996 ; 20).
 DAFTAR PUSTAKA


Brunner and Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC. Jakarta.

Carpetino, Lynda Juali. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. EGC. Jakarta.

Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. EGC. Jakarta.

DinKes Kabupaten Bandung. 2000. Profil Kabupaten Bandung. DinKes Kab. Bandung. Bandung.

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta.

Efendy, Nasrul. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC. Jakarta.

Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. EGC. Jakarta.

Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. YIAPK Pajajaran. Bandung.

Mansoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid I. EGC. Jakarta.

Nursalam. 2002. Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktek Salemba Medical. Jakarta.

Potter, Perry. 1999. Buku Saku Keterampilan Dan Prosedur Dasar. EGC. Jakarta.

Price, Sylvia Anderson. 1994. Patopisiologi Edisi IV, EGC. Jakarta.

Priharjo, Robert. 1996. Pengkajian Fisik Keperwatan. EGC. Jakarta.

Robins and Kumar. 1995. Ilmu Bedah Edisi VII. EGC. Jakarta.

Sjamsuhidajat, R. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC. Jakarta.


Jumat, 25 November 2011

Keperawatan Anak



BAB  I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar  Belakang
Anak merupakan cikal bakal penerus generasi suatu bangsa dimana anak sehat suatu negara juga akan berkembang. Beberapa anak mengalami penyakit atau suatu kelainan dimana  menjadi masalah tersendiri oleh suatu negara, sehingga dampaknya akan ,menjadi besar apabila tidak terdeteksi lebih dini dan penanganannya tidak tepat. Untuk itu dalam memenuhi tugas mata kuliah asuhan keperawatan anak penulis membahas asuhan keperawatan pada anak dengan beberapa penyakit/kelainan antara lain : .
   
1.2.  Tujuan
-    Mahasiswa mengetahui konsep asuhan keperawatan anak dengan omphalocele
-   Mahasiswa mengetahui konsep asuhan keperawatan anak dengan hipospadia
-   Mahasiswa mengetahui konsep asuhan keperawatan anak dengan phimosis
-   Mahasiswa mengetahui konsep asuhan keperawatan anak dengan hydrocele





BAB II
PEMBAHASAN

2.1.    Omphalocele
2.1.1. Pengertian
     Omphalocele adalah defek pada dinding anterior abdomen pada dasar dari umbilical cord dengan herniasi dari isi abdomen. Organ-organ yang berherniasi dibungkus oleh peritoneum parietal. Setelah 10 minggu gestasi, amnion dan Wharton Jelly juga membungkus massa hernia.(Lelin-Okezone, 2007)
    Omphalocele adalah kondisi bayi waktu dilahirkan perut bagian depannya berlubang dan usus hanya dilapisi selaput yang sangat tipis (dr. Irawan Eko, Spesialis Bedah RSU Kardinah, 2008).
2.1.2 Etiologi
Etiologi pasti dari omphalocele belum diketahui. Beberapa teori telah dipostulatkan, ini termasuk kegagalan kembalinya usus ke dalam abdomen dalam 10-12 minggu, kegagalan lipatan mesodermal bagian lateral untuk berpindah ke bagian tengah dan menetapnya the body stalk selama gestasi 12 minggu.
Faktor resiko tinggi yang berhubungan dengan omphalocele adalah resiko tinggi kehamilan seperti infeksi dan penyakit pada ibu, penggunaan obat-obatan, merokok, dan kelainan genetik. Defesiensi asam folat, hipoksia, dan salisil dapat menyebabkan defek pada dinding abdomen.
Asuhan Keperawatan
Data Fokus Pengkajian
    Fokus Pengkajian menurut Dongoes, M.F (1999):
    1. Mengkaji Kondisi Abdomen
        a. Kaji area sekitar dinding abdomen yang terbuka
        b. Kaji letak defek, umumnya berada di sebelah kanan umbilicus
        c. Perhatikan adanya tanda-tanda infeksi/iritasi
        d. Nyeri abdomen, sering disebabkan oleh inflamasi, obstruksi
        e. Distensi abdomen
    2. Mengukur temperatur tubuh
        a. Demam, biasanya berhubungan dengan dehidrasi, infeksi atau inflamasi.
        b. Lakukan pengukuran suhu secara kontinu tiap 2 jam
        c. Perhatikan apabila terjadi peningkatan suhu secara mendadak.
    3. Kaji Sirkulasi
        Kaji adanya sianosis perifer
    4. Kaji distress pernafasan
        a. Lakukan pengkajian fisik pada dada dan paru
        b. Frekuensi : Cepat (takipneu), normal atau lambat
        c. Kedalaman : normal, dangkal (Hipopnea), terlalu dalam (hipernea)
        d. Kemudahan : sulit (dispneu), othopnea
        e. Irama : v
aliriasi dalam frekuensi dan kedalaman pernafasan
        f. Observasi adanya tanda-tanda infeksi, batuk, seputum dan nyeri dada
        g. Kaji adanya suara nafas tambahan (mengi/wheezing)
        h. Perhatikan bila pasien tampak pucat/sianosis
● Diagnosa Keperawatan
     Pre Op
     1. Pola nafas tidak efektif b.d penekanan rongga abdomen (paru-paru)
     2. Termoregulasi tidak efektif b.d immaturitas
     3. Resiko kurang volume cairan b.d dehidrasi
     4. Resiko infeksi b.d isi abdomen yang keluar
     5. Konflik pengambilan keputusan b.d kurang informasi yang relevan
     6. Perubahan proses keluarga b.d  mempunyai anak yang menderita penyakit serius
     7. Kurang pengetahuan b.d perawatan post op.
     Post Op
     1. Nyeri Akut b.d prosedur pembedahan menutup abdomen.
     2. Resiko Infeksi b.d  trauma jaringan luka post op.
     3. Keterlambatan tumbuh kembang b.d  perawatan yang multipel.
     4. Koping keluarga tidak efektif b.d krisis situasi dari orang terdekat(orang tua).
     5. Cemas b.d  kematian.


● Intervensi
      Pre Op
      Dx 1 : Pola napas tidak efektif b.d. penekanan rongga abdomen (paru-paru)
     Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan manajemen jalan nafas 3x24 jam pola napas pasien kembali normal dan efektif. 
Kriteria Hasil:
a. Suara napas yang bersih, tidak ada sianosis dan dypsneu, mampu bernapas      dengan  mudah
b. Menunjukkan jalan napas yang paten (klien tidak merasa tertekik, irama napas, frekuensi     pernapasan dalam rentang normal, tidak ada suara napas abnormal seperti whezing/mengi).
c. TTV dalam batas normal
             Intervensi:
    
a. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
    
b. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
    
c. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan napas buatan
    
d. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
    
e. Monitor respirasi dan status oksigen
    
f. Keluarkan skret dengan batuk atau suction
Dx 2 : Termoregulasi tidak efektif berhubungan dengan imaturitas
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan Regulasi suhu selama 3 x 24 jam,   diharapkan termoregulasi pasien kembali normal dan efektif .
Kriteria Hasil:
a. Suhu tubuh pasien dalam batas normal
b. Tidak ada stress pernapasan
c. Tidak ada letargi
d. Perubahan warna kulit dalam rentang yang diharapkan
e. Pasien tidak menggigil
f. Status hidrasi adekuat
Intervensi:
    
a. Monitor suhu badan pasien setiap 2 jam
    
b. Monitor suhu badan bayi baru lahir sampai stabil
    
c. Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi
    
d. Monitor warna kulit dan suhu
    
e. Monitor dan laporkan tanda dan gejala hipotermi dan atau hipertermi
    
f. Monitor warna kulit dan suhu
    
g. Bantu meningkatkan keadekuatan cairan dan intake nutrisi

     Dx 3 : Resiko kurang volume cairan b.d. dehidrasi
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan Menejemen cairan selama 3 x 24 jam, diharapkan keseimbangan cairan pada pasien adekuat
Kriteria hasil:                                               
a. Keseimbangan intake & output dalam batas normal
b. Elektrolit serum dalam batas normal
c. Tidak ada mata cekung
d. Tidak ada hipertensi ortostatik
 e. Tekanan darah dalam batas normal
  Intervensi:
    
  a. Pertahankan intake & output yang adekuat
    
  b. Monitor status hidrasi (membran mukosa yang adekuat)
    
  c. Monitor status hemodinamik
   
   d. Monitor intake & output yang akurat
    
  e. Monitor berat badan


2.2.  Hipospadia
2.2.1.  Pengertian
Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 : 288).
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah, bukan di ujung penis.
2.2.2.  Etiologi
            a. Embriologi.
            b. Maskulinasi inkomplit dari genetalia karena involusi yang premature dari sel  interstisial testis.

Asuhan Keperawatan  
● Pengkajian
1. Kaji biodata pasien
2. Kaji riwayat masa lalu: Antenatal, natal,
3. Kaji riwayat pengobatan ibu waktu hamil
4. Kaji keluhan utama
5. Kaji skala nyeri (post operasi)
6. Inspeksi kelainan letak meatus uretra
7. Palpasi adanya distensi kandung kemih.

● Diagnosa  Keperawatan
Pre operasi
1. Manajemen regimen terapeutik tidak efektif  b.d pola perawatan keluarga
2. Perubahan eliminasi (retensi urin) berhubungan dengan obstruksi mekanik
3. Kecemasan b. d akan dilakukan tindakan operasi baik keluarga  dan klien.

post operasi                
1. Kesiapan dlm peningkatan manjemen regimen terpetik
b. d petunjuk aktivitas adekuat.
2. Nyeri berhubungan dengan post prosedur operasi
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter
4. Perubahan eliminasi urine berhibingan dengan trauma operasi

I
ntervensi
 pre op
Dx 1 : Manajemen regimen terapeutik tidak efektif b.d pola perawatan keluarga.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan manajemen regimen terapeutik kembali efektif.
Indikator :
a. Status imunisasi anggota kelurga
b. Kesehatan fisik anggota keluarga
c. Asupan makanan yang adekuat
d. Tidak adanya kekerasan anggota kelurga
e. Penggunaan perawatan kesehatan

Intervensi :
a. Jadilah pendengar yang baik untuk anggota keluarga
b. Diskusikan kekuatan kelurga sebagai pendukung
c. Kaji pengaruh budaya keluarga
d. Monitor situasi kelurga
e. Ajarkan perawatan di rumah tentang terapi pasien
f. Kaji efek kebiasaan pasien untuk keluarga
g. Dukung kelurga dalam merencanakan dan melakukan terapi pasien dan perubahan gaya hidup
h. Identifikasi perlindungan yang dapat digunakan kelurga dalam menjaga status kesehatan.

 Dx 2: Perubahan eliminasi (retensi urin) b.d obstruksi mekanik
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24jam diharapkan retensi urin berkurang
Indikator :
a. Mengatakan keinginan untuk BAK
b. Menentukan pola BAK
c. Mengatakan dapat BAK dengan teratur
d. Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet
e. Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK
f. Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK
g. Mengesankan kandung kemih secara komplet

Intervensi :
a. Melakukan pencapaian secara komperhensif jalan urin berfokus kpd inkontinensia
b. Menjaga privasi untuk eliminasi
c. Menggunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK di toilet
d. Menyediakan waktu yang cukup untuk mengosongkan blader (10 menit)
e. Menyediakan perlak di kasur
f. Menggunakan manuver crede, jika dibutuhkan
g. Menganjurkan untuk mencegah konstipasi
h. Monitor intake dan output
i. Monitor distensi kandung kemih dengan papilasi dan perkusi
j. Berikan waktu berkemih dengan interval reguler, jika diperlukan.

Dx 3 : Kecemasan b.d akan dilakukan tindakan operasi baik keluarga dan klien.
Tujuan : Setelah dilakukan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kecemasan pasien berkurang.
Indikator :
a. Tingkat kecemasan di batas normal
b. Mengetahui penyebab cemas
c. Mengetahui stimulus yang menyebabkan cemas
d. Informasi untuk mengurangi kecemasan
e. Strategi koping untuk situasi penuh stress
f. Hubungan sosial
g. Tidur adekuat
h. Respon cemas

Intervensi :
a. Ciptakan suasana yang tenang
b. Sediakan informasi dengan memperhatikan diagnosa, tindakan dan prognosa, dampingi pasien untuk meciptakan suasana aman dan mengurangi ketakutan
c. Dengarkan dengan penuh perhatian
d. Kuatkan kebiasaan yang mendukung
e. Ciptakan hubungan saling percaya
f. Identifikasi perubahan tingkatan kecemasan
g. Bantu pasien mengidentifikasi situasi yang menimbulkan kecemasan.

Diagnosa post operasi
Dx 1: Kesiapan dalam peningkatan manajemen regimen terapeutik b.d petunjuk aktivitas adekuat.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kesiapan peningkatan regimen terapeutik baik.
Indikator :
a. Ikut serta dalam perencanaan perawatan
b. Ikut serta dalam menyediakan perawatan
c. Menyediakan informasi yang relefan
d. Kolaborasi dalam melakukan latihan
e. Evaluasi keefektifan perawatan

Intervensi :
a. Anjurkan kunjungan anggota keluarga jika perlu
b. Bantu keluarga dalam melakukan strategi menormalkan situasi
c. Bantu keluarga menemukan perawatan anak yang tepat
d. Buat jadwal aktivitas perawatan pasien di rumah sesuai kondisi
e. Ajarkan keluarga untuk menjaga dan selalu menngawsi perkembangan status kesehatan keluarga.

Dx 2 : Nyeri akut b.d post prosedur operasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 3x24 jam diharapkan nyeri berkurang.
Indikator :
a. Melaporkan nyeri (frekuensi & lama)
b. Perubahan vital sign dalam batas normal
c. Memposisikan tubuh untuk melindungi nyeri

Manajemen Nyeri
Intervensi :
a. Kaji secara komperhensif mengenai lokasi
, kualitas, intensitas, dan pencetus nyeri
b. Observasi keluhan nonverbal dari ketidaknyamanan
c. Ajarkan teknik nonfarmakologi (ralaksasi)
d. Bantu pasien & keluarga untuk mengontrol nyeri
e. Beri informasi tentang nyeri (penyebab, durasi, prosedur antisipasi nyeri)

Intervensi :
a. Monitor TD, RR, nadi, suhu pasien
b. Monitor keabnormalan pola napas pasien
c. Identifikasi kemungkinan perubahan TTV
d. Monitor toleransi aktivitas pasien
e. Anjurkan untuk menurunkan stress dan banyak istirahat

Manajemen lingkungan
Intervensi :
a. Cegah tindakan yang tidak dibutuhkan
b. Posisikan pasien dalam posisi yang nyaman

Dx 3 : Resiko tingggi infeksi b.d invasi kateter
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 3x24 Jam diharapkan tidak terjadi infeksi.
Indikator :
a. Mengidentifikasi faktor yang dapat menimbulkan resiko
b. Menjelaskan kembali tanda & gejala yang mengidentifikasi faktor resiko
c. Menggunakan sumber & pelayanan kesehatan untuk mendapat sumber informasi


Status imun
Indikator :
a. Tidak menunjukan infeksi berulang
b. Suhu tubuh dalam batas normal
c. Sel darah putih tidak meningkat

Kontrol infeksi
Intervensi :
a. Ajarkan pasien & kelurga cara mencuci
tangan yang benar
b. Ajarkan pasien & keluarga tanda gejala infeksi & kapan melapo
r kepada petugas
c. Batasi pengunjung
d. Bersihkan lingkungan dengan benar setelah digunakan pasien

Perawatan luka
Intervensi :
a. Catat karakteristik luka, drainase
b. Bersihkan luka dan ganti balutan dengan teknik steril
c. Cuci tangan dengan benar sebelum dan sesudah tindakan
d. Ajarkan pada pasien dan kelurga cara prosedur perawatan luka



Perlindungan infeksi
Intervensi :
a. Monitor peningkatan granulossi, sel darah putih
b. Kaji faktor yang dapat meningkatkan infeksi.

2.3.  Phimosis
        2.3.1.  Pengertian
Phimosis adalah penyempitan pada prepusium. Kelainan ini juga menyebabkan bayi/anak sukar berkemih. Kadang-kadang begitu sukar sehingga kulit prepusium menggelembung seperti balon. Bayi/anak sering menangis keras sebelum urine keluar.
Phimosis adalah suatu  keadaan dimana prepusium penis yang tidak dapat diretaksi keproximal sampai ke korona glandis.

2.3.2.  Etiologi
Phimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir terjadi karena ruang di antara kutup dan penis tidak berkembang dengan baik.Kondisi ini menyebabkan kulup menjadi melekat pada kepala penis, sehingga sulit ditarik ke arah pangkal.Penyebabnya bisa dari bawaan dari lahir atau infeksi.

Asuhan Keperawatan
●Pengkajian
Pada pasien fimosis, penis memiliki ukuran yang jauh dibawah rata-rata, anak susuah berkemih kadang-kadang sampai kulit prepusium menggelembung seperti balon. Bayi atau anak sering menangis keras sebelum urine keluar, apabila sudah terjadi infeksi dibawah kulit pada penis yang tidak disunat penis menjadi nyeri, gatal-gatal, kemerahan dan membengkak serta bisa menyebabkan penyempitan uretra
  Diagnosa keperawatan
    1. Nyeri b.d kesulitan berkemih karena terjadi penyempitan prepusium.
    2. Resiko tinggi infeksi b.d penyempitan lubang prepusium.
  Intervensi
    Dx 1 : Nyeri b.d kesulitan berkemih karena terjadi penyempitan prepusium.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan selama 2x24 jam  nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil :
1.nyeri berkurang atau hilang
2.mengidentifikasi sumber nyeri
3.mengidentifikasi aktifitas yag meningkatkan dan menurunkan nyeri.
4.Menggambarkan rasa nyaman dari orang lain selama mengalami nyeri.

Intervensi
1.kaji pengalaman nyeri anak.
2. tentukan konsep anak tentang penyebab nyeri.
3. minta anak untuk menunjukan area yang sakit.
4.tingkatkan rasa nyaman.
5.alihkan perhatian anak dg cerita maupun mainan.
6.Bantu anak mengatasi akibat nyeri dengan cara :
    a.Katakan pada anak kapan prosedur yang menyakitkan akan segera berakhir.
    b.Gendong anak kecil untuk menunjukan prosedur telah selesai.
    c.Berikan dorongan pada anak untuk menggambarkan nyerinya.

Dx 2 : Resiko tinggi infeksi b.d penyempitan lubang prepusium.
Tujuan : setelah dilkukan perawatan 2x24 jam tidak ada tanda-tanda infeksi.
Kriteia Hasil : bebas dari proses infeksi nosokomial selama perawatan di RS.
Intervensi :
1.Pantau terhadap tanda2 infeksi ( misi letargi, kesulitan makan, muntah)
2. ajarkan tanda infeksi pada daerah sirkumsisi (misi perdarahan)
3. kurangi kerentanan individu terhadap infeksi.



2.4. Hydrocele
2.4.1. Pengertian
Hydrocele adalah penumpukan cairan pada selaput yang melindungi testis.
2.4.2. Etiologi
Hydrocele bias ada ketika lahir atau terjadi kemudian didalam hidup. Hal ini paling sering terjadi setelah usia 40 tahun. Biasanya penyebabnya tidak diketahui meskipun begitu keadaannya kadangkala diakibatkan oleh sebuah gangguan testicular (missal luka epididymitis, atau kanker).
2.4.3. Gejala
Biasanya hydrocele tidak menyebabkan gejala; hal ini ditemukan sebagai bengkak yang tidak menyakitkan disekitar testis.
Diagnosa
Seorang dokter bias menyinari lampu terang pada bengkak (transillumination) untuk memastikan diagnose pemeriksaan ultrasonic pada testis dilakukan pada hal yang luar biasa missal pada pria muda dengan sebab tidak nyata untuk hydrocele. Ultrasonic bias mengungkapkan infeksi atau tumor.
Pengobatan
Kebanyakan hydrocele tidak membutuhkan pengobatan.Meskipun operasi pengangkatan kadangkala dilakukan untuk hydrocele yang tidak bias besar.

BAB  III
PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
Omphalocele adalah kondisi bayi waktu dilahirkan perut bagian depannya berlubang dan usus hanya dilapisi selaput yang sangat tipis.
Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis bukan di ujung penis.
Phimosis adalah penyempitan yang menyebabkan bayi/anak sukar berkemih bayi/anak sering menangis keras sebelum urine keluar.
Hydrocele adalah penumpukan cairan pada selaput yang melindungi testis.
3.2.  Saran
Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis berharap kepada pembaca untuk lebih melengkapi dalam penyusunan makalah ini dengan mengambil dari referensi yang lebih benyak .

DAFTAR  PUSTAKA

Johnson, Marion dkk. (2000). Nursing outcomes classification (NOC). Mosby

Suriadi SKp, dkk. (2001). Asuhan keperawatan pada anak. Jakarta : Fajar Interpratama

Mansjoer, Arif, dkk. (2000).Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta : Media Aesculapius.

McCloskey, Joanne C. (1996). Nursing interventions classification (NIC). Mosby

Price, Sylvia Anderson. (1995). Pathofisiologi. Jakarta: EGC

Purnomo, B Basuki. (2000). Dasar – dasar urologi. Jakarta : Infomedika

Santosa, Budi. (2005-2006). NANDA. Prima Medika